Lumajang memang penuh dengan sejuta pesona, bahkan bisa ditemui di lingkup birokrasi. Ya, birokrasi telah memberikan ruang kreasi bagi kami untuk hibernasi. Sejak tahun 2010, kami pernah mengajukan berbagai event kreatif untuk Lumajang namun pihak-pihak terkait masih enggan memberikan jawaban memuaskan bahkan menolak! Akhirnya, kami pun jalan sendiri.
Masih ingat kenangan kami ketika Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya mengubungi TSL. Kami pikir, pintu terbuka kembali untuk bersinergi namun ternyata hanya meminta ijin penggunaan logo HARJALU 755 yang kami buat untuk dijadikan suvenir ketika Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) sekaligus rangkaian acara resmi HARJALU 755. Kami sebenarnya tak mempermasalahkan siapa yang memakai dan itu gratis, tapi kalau sudah menyangkut komersil alias bisnis, mohon maaf, berikan hak kami yaitu royalti. Akhirnya, pihak Kaparsebud menarik diri. Itulah yang terjadi satu tahun yang lalu.
 |
[kanan-kiri]: logo HARJALU 755, logo FS2010 dan logo Kado untuk Lumajang |
 |
[kanan-kiri]: eksekusi poster FKKS2010 versi TSL dan FS2010 |
Memori akan peristiwa tersebut muncul kembali ketika kami melihat rangkaian kegiatan HARJALU 756. Perhatian kami tertuju kepada LOSS (Lumajang On the Street and Stage) Carnivals. Hal serupa pernah kami rencanakan yakni Festival Maskot, Festival Pisang Lumajang, Festival Semeru, Festival Hujan dan Kado untuk Lumajang. Namun agenda tersebut yang berjalan hanya Festival Semeru (dilaksanakan oleh teman-teman PAS Senduro). Sementara Kado untuk Lumajang telah jelas ditolak mentah-mentah oleh bagian birokrasi Pemda. Sedangkan yang lainnya masih tutup agenda untuk sementara.
LOSS Carnivals, bukan acara kecil atau hanya isapan jempol. Bahkan acara ini digadang-gadang mampu menandingi Jember Fashion Carnival (JFC) yang lebih dulu populer dan telah mempengaruhi acara serupa di Indonesia. Antara lain; Solo Batik Carnival, Batu Flowers Carnival, Probolinggo Botanical Carnival, Pandaan Festival, Kediri Fashion Carnival, Malang Flowers Carnival dan terakhir Banyuwangi Ethnic Carnival. Padahal, konsep JFC konon ingin mengalihkan Karnaval Tradisional Lumajang yang pada zamannya mampu menyedot perhatian masyarakat kabupaten tetangga. Namun, lagi-lagi masalah birokrasi sehingga karnaval tersebut mati suri.
 |
klik gambar untuk memperjelas! |
Ada yang lolos sensor dari LOSS Carnivals, apa itu? Tidakkah Kamu tahu dan teliti? Kata LOSS sendiri telah mencederai makna karnaval itu sendiri. Jika Kamu lihat di kamus atawa paling cepat via google translate, silakan cek makna tersebut. Ya, artinya "kerugian" yang berarti karnaval yang merugikan. Sudah tentu harapannya karnaval ini tak merugikan bahkan harus menguntungkan. Oleh karena itu, kami memberikan alternatif tittle event dengan nama LOST Carnivals yang bermakna karnaval yang hilang. Makna ini lebih mengena karena ingin mengembalikan pamor karnaval Lumajang yang dulu berjaya di jamannya. Perbedaannya hanya tipis, namun harus pintar-pintar menyiasati. Lumajang On the Street and Stage, resminya dari penyelenggara disinggkat LOSS (diambil dari huruf depan), sementara kami menyajikan LOST ("ST" diambil dari kata STreet dan STage).
Terakhir, hal ini pun berpengaruh terhadap eksekusi promo. Terutama poster kegiatan, silakan cek, bandingkan dan bedakan! Bisakah Kamu menilai mana skala lokal maupun nasional? Namun, apapun itu harus dihargai untuk kemajuan Lumajang. Ayo, Rek sing kreatif!